Manasik Qubro

Manasik Qubro dilaksanakan tanggal 25-26 Oktober 2008. Calon jamaah haji dari DT Jakarta dan DT Bandung dikumpulkan menjadi satu di pesantren DT, Geger Kalong, Bandung.

Kami yang dari Jakarta, berangkat bersama-sama memakai bus. Sebelum berangkat kami diberi tahu kelompok kami yang akan berlaku insyaAllah sampai prosesi ibadah haji selesai, saya dan suami mendapat kelompok III regu 4. Masing-masing kelompok ada 45 orang yang dipimpin oleh 1 karum dari DT, dan masing-masing regu ada 10 orang dengan 1 karu. Karum kami adalah pak Karim.

 

Inti dari acara ini adalah pemantapan manasik haji yang telah kami lakukan.

 

Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 07.30 dan sampai Bandung menjelang jam 10.30. Acara siang itu adalah pengarahan dari karum tentang acara manasik qubro selama 2 hari, test kesehatan tahap 2 (sama seperti yang pertama ditambah imunisasi meningitis).

 

Malam harinya sehabis sholat Isya ada tausiah dari uzt Miftah Farid tentang perjalanan Ibadah Haji.

 

Jam 22:00 kami diminta istirahat karena jam 1 akan dibangunkan untuk sholat lail dan ada acara mushabaqoh. Malam itu kami tidur di tenda-tenda bersama 1 kelompok kami (ikwan dan ahwat terpisah) seperti simulasi nantinya insyaAllah waktu wukuf di Arafah.

 

Rasanya belum lama kami tertidur, kami sudah dibangunkan lagi pada pukul 1 dini hari. Sebelumnya kami sudah diinformasikan untuk menyiapkan baju ikhrom kami. Malam itu dengan khusyu kami melaksanakan sholat lail berjamaah dengan mengenakan baju ikhrom.

 

Sesudah sholat lail, kami diminta menutup mata kami dengan syal yang telah kami terima siangnya. Kami berjajar bersama kelompok kami masing-masing. Sungguh kami tidak tahu akan ada apa setelah kami tidak bisa melihat apa-apa. Sambil menunggu persiapan selesai, kami diminta mengucapkan dzikir yang tiada henti. Sungguh, tanpa terasa air mata kami mengalir, suasana yang syahdu membuat kami benar-benar teringat akan semua dosa-dosa kami. Betapa kecilnya kami dihadapan Sang Maha Pencipta.

 

Akhirnya kami diminta berpegangan ke pundak teman di depan kami dan diminta berjalan tetap dengan mata tertutup, dan selama perjalanan kami tetap dengan berdzikir. Rasanya tidak lama kami sudah diminta berhenti, dan diminta duduk. Kami benar-benar tidak tahu saat itu kami dibawa ke mana.

 

Sambil terus berdzikir, kami diingatkan untuk apa Allah menciptakan manusia, dan ke mana arah perjalanan hidup kita selama ini. Rasanya air mata tak henti-hentinya bercucuran dengan terus mengucapkan dzikir.

 

Kemudian kami disuruh membuka tutup mata kami, dan diminta menyalakan lilin yang ada di depan kami. Memang saat kami membuka mata, situasi sekeliling benar-benar gelap gulita. Dan saat saya berhasil menyalakan lilin di depan saya, rasanya shock sekali melihat kayu nisan di depan saya. Saat itu saya berpikir kami berada di lokasi kuburan. Dan saat membaca tulisan di kayu nisan tsb, bertambah kaget lagi kami, karena disitu tertulis nama kami masing-masing. Tangisan haru lebih terasa lagi, kami benar-benar diingatkan bahwa kematian bisa datang kapan saja, dan sudah siapkan bekal kami selama ini.

 

Kami juga diminta mengisi kertas yang ada di hadapan kami, yang isi pertanyaannya a.l, apabila kami meninggal siapa saja yang kami harap datang di acara pemakaman kami, wasiat apa yang akan kami sampaikan ke anak/istri/suami kami, dan ada harapan kami insyaAllah setelah pulang dari ibadah haji. Jujur saya tidak kuasa mengisi jawaban-jawaban tsb, sungguh suatu perenungan yang sampai sekarang sangat berpengaruh terhadap hidup saya, semoga Allah selalu memberi perlindungan kepada kita semua. Amin.

 

Acara hari Minggu-nya, dimulai pukul 6 yaitu kami menuju ke lapangan AD yang letaknya kira-kira 5 km dari pesantren DT. Kami menuju ke sana dengan berjalan kaki. Rasanya sih panas dan capek tentu saja hehehe. Tapi kami insyaAllah ihklas menjalaninya, juga dalam rangka latihan insyaAllah kalau kami tanazul nantinya.

 

Sesampai di lokasi lapangan, sudah terlihat miniature kabah, safa dan marwah, juga tempat melempar jumroh. Kami bersama masing-masing kelompok yang dipimping masing-masing karum melakukan simulasi umroh, wukuf di Arafah sampai prosesi melempar jumrah dan diakhiri thawaf ifadhoh.

 

Ada juga simulasi khobah Arafah yang disampaikan oleh uztaq

 

img_07103

 Saat itu juga terlihat teteh Nini. Hal yang sangat saya ingat adalah, waktu kami sudah dalam posisi duduk mendengarkan khobah Arafah, saya lihat teh Nini mengatur posisi sepatu/sandal jamaah ahwat yang saat itu sangat tidak beraturan. Duh rasanya malu hati saya L benar-benar sangat membumi ajaran yang diberikan oleh DT, dan contoh itu benar-benar diberikan dari semua kalangan selama saya berada di pesantren selama 2 hari itu. Saya juga melihat hal yang sama di lakukan oleh bunda Ningrum di gedung kesehatan dimana kami melakukan test kesehatan tahap 2.

 

Sungguh, manasik kubro 2 hari tsb memberi pelajaran dan arti yang penting buat saya pribadi, Alhamdulillah, insyaAllah saya akan menulis kesan-kesan lainnya lagi.

(beritanya manasik qubro ini, bisa dilihat juga di http://www.daaruttauhiid.org/news/detail/0/5/news-5.html).

 

2 responses

  1. Mbak Lilik, terima kasih ya udah mencatat dan berbagi catatan ini.. aku lagi baca pelan-pelan dari awal mula, baru sampai bagian Manasik Qubro ini udah becek mukaku.. hikss..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s