Posted by: shafamarwah | October 15, 2009

Tentang Air Zam-zam

Di Masjidil Haram, Mekah dan Masjid Nabawi, Madinah, air zam-zam mudah didapatkan di seluruh penjuru masjid. Air zam-zam ini bisa berasal dari air kran, yang bisa digunakan sebagai air wudhu, juga berupa wadah botol-botol besar yang ada kran tempat keluar airnya.

Bahkan, di luar Masjidil Haram, ke arah masjid Kucing, tersedia kran-kran air zam-zam yang biasanya jamaah boleh mengambil dari jerigen-jerigen besar yang dibawanya.

air zam-zam

Photo ini diambil di masjidil haram, setiap botolnya ada tulisan cold dan hot. Kalau kami pilih yang hot (hanya hangat) daripada yang dingin.

Untuk keperluan selama di tanah suci, setiap ke masjid bisa membawa 2-3 botol yang kita isi dengan air zam-zam dan digunakan di maktab.

Jadi, selama ke masjid, jangan lupa membawa bekal tempat air minum untuk mengisi dengan air zam-zam.

Posted by: shafamarwah | October 14, 2009

Tentang Beli Oleh-oleh

Setiap berangkat haji, pastinya sering saudara dan teman secara sengaja dan tidak sengaja minta dioleh-olehin. Saya ingat pesan ustazah di KBIH saya, beli oleh-oleh boleh, asalkan jangan sampai membebani kita, bahkan sampai menganggu ibadah kita, secukupnya saja. Setuju sekali saya dengan pendapat ini.

Sebenernya kalau mau simple dan tidak repot, di Jakarta terutama di Tanah Abang, bertebaran aneka warna oleh-oleh haji, dan kebanyakan juga asli dari tanah Arab. Bisa dibeli sebagian di Jakarta misalnya. Semuanya kembali ke individu masing-masing.

Oleh-oleh haji yang paling khas tentunya air zam-zam dan kurma, juga bangsa kacang-kacangan. Untuk sajadah, peci dll sebenarnya tidak begitu beda dengan produk negeri sendiri, bisa jadi malah beli di Mekah tapi made in Indonesia :D

Untuk air zam-zam bisa didapat juga di Jakarta, sebenarnya setiap jamaah sewaktu sampai di bandara Sukarno Hatta akan mendapat jatah per orang 5 liter, kalau kami kemaren KBIH kami menyediakan juga, jadi begitu sampai di asrama haji Bekasi, kami dapatkan juga air zam-zam yang sudah kami pesan sewaktu masih di Arab.

Untuk oleh-oleh tsb, mudah didapatkan di Mekah maupun Madinah. Sepanjang jalan menuju Masjidil Haram dan Masjid Nabawi bertebaran toko-toko yang menjual oleh-oleh tsb. Yang penting memang pintar menawar saja ;;) Pintar-pinta menawar saja, walaupun sebenarnya kalau dibandingkan-pun tidak berbeda jauh. Prinsip ada harga ada rupa berlaku di deretan toko-toko ini.

Kalau tidak mau repot menawar, dengan harga yang pasti (dan tentunya sedikit lebih mahal) bisa belanja di Bin Dawood, swalayan serba ada (sebangsa Carefour, Giant) yang di Mekah dan Madinah terletak tidak jauh dari Haram.

Untuk kurma, yang paling terkenal (dan mahal) adalah kurma ajwa (kurma nabi). Sewaktu ziarah ke tempat-tempat ziarah (masjid Quba, masjid Qiblatain, Jabbal Uhud dlsb) juga banyak penjual oleh-oleh ini.

Kalau saya, karena termasuk kloter terakhir, saya fokuskan ibadah dulu di Armina (Arafah, Mina, Muzdalifah), juga ibadah-ibadah wajib lainnya dulu. Baru setelahnya membeli/menyicil membeli oleh-oleh tsb. Sesempatnya saja, karena prinsip saya seperti di atas.

So, selamat berbelanja :)

Posted by: shafamarwah | October 14, 2009

Tentang Toilet

Baik di Masjidil Haram, Mekah dan masjid Nabawi, Madinah toilet-toilet terdapat di luar masjid, terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Toilet-toilet ini biasanya ada di lantai bawah, bahkan di masjid Nabawi ada yang sampai ke lantai 3 ke bawah.

Beberapa cerita yang kami dengar, khususnya untuk perempuan, hati-hati kalau ke toilet karena letaknya yang memang agak di luar dan dibawah lantai (ada escalator dan tangga biasa). Cerita-cerita yang agak seram juga sempat kami dengar. Intinya kalau ke toilet harus ada temannya.

Tetapi pengalaman pribadi saya, karena situasi yang tidak memungkinkan ke toilet selalu bersama teman, alhamdulillah sendiripun baik di masjidil Haram dan masjid Nabawi tidak mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. InsyaAllah semua toilet dijaga oleh petugas/askar. Bahkan menurut saya di masjid Nabawi penjagaannya lebih ketat daripada di masjidil Haram.

deretan toilet di masjidil haramtoilet di masjidil haram

Untuk tempat wudhu-nya, biasanya terletak di luar deretan toilet-toilet ini. Tempat wudhu yang nyaman, berharap masjid-masjid di tanah air bisa meniru tempat wudhu seperti ini.

deretan tempat wudhu

Sewaktu musim haji, jangan berharap antrian di toilet dan tempat wudhu bisa sesepi ini. Karena saya termasuk kloter terakhir, sempat menikmati masa-masa di mana Masjidil Haram sudah mulai sepi (cuma herannya kalau hajar aswad tetap saja ramai), antrian di toilet dan tempat wudhu mulai berkurang. Photo ini saya ambil tengah malam, makanya bisa dibilang sepi sekali, dan rasanya sewaktu crowded tidak akan terpikir untuk mengambil photonya :D

Posted by: shafamarwah | October 13, 2009

Tentang Raudah

Raudah adalah taman-taman surga, terletak di dalam Masjid Nabawi. Sejarah tentang raudah dan masjid ini pasti sudah banyak ceritanya.

Cerita dan pengalaman yang mengerikan, bagaimana susahnya menuju raudah ini sering kami dengar dan baca sebelum berangkat. Waktu pagi pertama di Masjid Nabawi, sehabis sholat Subuh kami ikut antri untuk menuju ke Raudah. Khusus untuk ahwat/perempuan saat itu dibuka 3 kali sehari, sehabis Subuh sampai jam 11-an, sehabis sholat Dluhur sampai sebelum Ashar dan sehabis sholat Isya sampai jam 11 malam.

Tiap-tiap Negara membuat kelompok sendiri-sendiri dan dijaga oleh askar-askar perempuan. Sebenarnya bisa saja misalnya orang Malaysia yang gabung ke Indonesia, juga sebaliknya karena rumpun yang sama sehingga perbedaan fisik tidak menyolok. Kalau semisal orang India atau orang negro gabung ke Negara Asia biasanya di’usir’ oleh askar untuk kembali ke Negara/kelompoknya masing-masing.

dibawah kubah hijau ini terdapat makam Rosulullahdi masjid Nabawi

Pagi itu pengalaman menunggu ke raudah yang terlama, saat itu saya bersama teman berada di bagian luar dari pintu pertama masuk ke Raudah, sehingga mendapat giliran agak siangan. Besok-besoknya sesudah mengetahui kami kalau berencana ke raudah sengaja datang lebih duluan dan mengambil tempat di depan (pintu pertama ke raudah, yaitu pintu pemisah jamaah ikhwan dan akhwat). Biasanya selama antri ini ada ceramah dari petugas Kedutaan masing-masing Negara, sehingga misal kami dari Indonesia bisa mendengarkan ceramah keagamaan dengan bahasa Indonesia. Alhamdulillah.

Biasanya begitu pintu terbuka, semua jamaah berlari dan berhamburan masuk menuju ke raudah. Hal yang kami pelajari adalah, tetaplah jalan seperti biasa sambil berdzikir dan bershalawat, raudah tidak akan kemana-mana sehingga kita tidak perlu berlarian yang seringkali ‘menyakiti’ jamaah lainnya.

Begitu di depan Raudah (biasanya atapnya terbuka) dan dihalangi oleh pintu kayu geser, biasanya kami masih mengantri lagi, menunggu giliran yang di dalam Raudah keluar/selesai beribadah. Biasanya askar akan mengusir jamaah yang berlama-lama di dalam raudah.

Biasakan juga misalnya niat ke raudah untuk sholat jamaah 2 rekaat dan berdoa, ya lakukan sesuai niat awal kita. Kadang rasa serakah akan muncul, bila mana askar tidak melihat dan tidak mengusir kita  sehingga kita akan menambah dan terus menambah berlama-lama di raudah. Padahal jamaah lainnya yang antri di belakang kita biasanya masih berjibun.

Itu pesan yang kami dapatkan dan berusaha kami jalankan, walaupun tentu saja pasti keinginan untuk berlama-lama selalu ada. Selama tidak mendholimi dan merugikan orang lain mungkin tidak apa-apa ya, WallahuAlam.

Posted by: shafamarwah | October 12, 2009

Ziarah Madinah

1 Januari 2009

Hari ini bada Subuh kami ziarah ke Jabbal Uhud, masjid Quba, masjid qiblatain, Jabbal Magnet, percetakan Al Quran, dan perkebunan kurma.

Jabal Uhud

Letaknya kurang lebih 5 km dari pusat kota Madinah. Di bukit inilah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin melawan kaum musyrikin Mekah. Dalam pertempuran tersebut gugur 70 orang syuhada di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad saw. Kecintaan Rasulullah saw pada para syuhada Uhud, membuat beliau selalu menziarahinya hampir setiap tahun. Untuk itu, Jabal Uhud menjadi salah satu tempat penting untuk diziarahi (http://id.wikipedia.org/wiki/Haji#Jabal_Uhud).

Masjid Qiblatain

Pada masa permulaan Islam, kaum muslimin melakukan shalat dengan menghadap kiblat ke arah Baitul Maqdis di Yerussalem, Palestina. Pada tahun ke-2 H bulan Rajab pada saat Nabi Muhammad saw melakukan shalat Zuhur di masjid ini, tiba-tiba turun wahyu surat Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan agar kiblat shalat diubah ke arah Kabah Masjidil Haram, Mekah. Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka akhirnya masjid ini diberi nama Masjid Qiblatain yang berarti masjid berkiblat dua. (http://id.wikipedia.org/wiki/Haji#Masjid_Qiblatain)

Ziarah Madinah

Jabal UhudJabal Uhud
Masjid Qubatempat jual kurma dlsb, deket kebun kurmanya
Jabbal Magnetkelompok 3 Kloter 80 di jabbal magnet
percetakan Al Qurankebun kurma

Masjid Quba

Masjid pertama tempat dilaksanakan sholat Jum’at oleh Rasulullah SAW, setelah hijrah ke Madinah bersama kaum muhajirin itu, masih terpelihara dengan baik (http://www.eramuslim.com/berita/tanah-suci/menapaki-sejarah-masjid-jumat-dan-masjid-quba-di-madinah.htm).

Jabbal Magnet

Jabal magnet, tempat wisata yang menarik jamaah haji termasuk Indonesia itu, terletak sekitar 30 KM dari kota Madinah menuju arah kota Tabuk.

Namun, jabal magnet yang sudah terkenal dikalangan jamaah haji Indonesia itu, ternyata tidak dikenal oleh warga asli Madinah, bahkan yang lebih tahu adalah warga Madinah yang merupakan pendatang. Dan setelah diketahui, ternyata warga asli Madinah menyebutnya bukan dengan jabal magnet (bukit magnet), tetapi Manthaqotul Baido (tanah putih).
(http://www.eramuslim.com/berita/tanah-suci/jabal-magnet-keajaiban-alam-di-madinah.htm).

Percetakan Al Quran

Kompleks percetakan yang berdiri sejak tahun 1405H/1984 diatas tanah 4500 meter persegi, selain secara teliti menghasilkan Al Quran baik bentuk versi cetak dan audio CD/kaset, juga mencetak jurnal-jurnal serta melakukan penelitian dan melakukan kajian mengenai kandunguan isi Al Quran (http://www.eramuslim.com/berita/tanah-suci/percetakan-al-quran-madinah-juga-lakukan-penelitian-tentang-keislaman.htm).

Posted by: shafamarwah | October 12, 2009

Di Madinah

30 Desember 2008

Alhamdulillah, jam 02:00 dini hari kami sampai di hotel, alhamdulillah hotel kami letaknya dekat dengan masjid Nabawi, berjalan kaki sekitar 5-10 menit. Dalam perjalanan kami ke hotel, kami melewati masjid Nabawi dari kejauhan, subhanallah, Allahu Akbar, begitu besar kekuasaanMu ya Allah.

hotel kami di MadinahBriefing dari pak Karom di depan kamar-kamar kami

Subuh pertama kami ke Masjid Nabawi, rasa yang sama kami rasakan sewaktu memasuki Masjidil Haram dulu. Masjid Nabawi pagi itu penuh sesak dengan manusia, para askar sibuk pengatur jamaah. Alhamdulillah dengan perjuangan kami bisa memasuki masjid.

Masjid Nabawi - Madinah


Masjid Nabawi di waktu malamkubah Hijau, dibawahnya ada makan Rosulullah
Payung raksasa di halaman Masjid NabawiMasjid Nabawi ba'da Subuh
sudut lain masjid Nabawimasjid Nabawi

9 Hari di Madinah, kami isi sebaik-baiknya dengan ibadah di masjid Nabawi, melengkapi sholat arbain, raudah, juga ziarah ke jabbal Uhud, masjid quba, kebun kurma.

Posted by: shafamarwah | October 12, 2009

Tentang Obat Penunda Haid

Sebelum pergi, mencoba mencari info tentang perlu tidaknya memakai obat ini. Memang ada 2 pendapat ada yang memakai dengan alasan supaya ibadahnya full disana, ada juga yang tidak memakai dengan memasrahkan segalanya kepada Sang Kuasa.

Saat manasik haji, sewaktu sesi hanya khusus ahwat, ibu dokter kandungan (merangkap dokter suatu biro perjalanan haji juga) menerangkan sisi medis penggunaaan obat ini. Ibu Dokter ini bercerita dari beberapa kali mendampingi jamaah haji blio memakai obat penunda haid dan hasilnya malah selama ibadah haji blio mendapatkan flek dan haid terus menerus.

Intinya selalu ada impact dari penggunaan obat ini, dan ini bersifat individual sekali.

Dari membaca info2 awal ini saya pribadi mantap tidak menggunakan obat ini. Kadang juga masih kepikiran bagaimana kalau waktu wukuf pas mendapatkannya ? bagaimana kalau sewaktu thawaf wada (perpisahan) pas mendapatkannya ? dan bagaimana bagaimana lainnya ?

Bunda Ningrum (DT) juga menerangkan dari sisi pengalaman blio mendampingin jamaah haji. Yang membuat tertegun dan akhirnya memantapkan saya tidak memakai adalah perkataan blio yang kurang lebih begini “biasanya ibu-ibu yang memakai obat memang ingin ibadahnya sempurna, bisa ibadah terus tanpa ada gangguan datangnya tamu bulanan. Tetapi haid adalah kehendak Allah juga, apakah ibu-ibu yakin dengan ibadah full (tidak ada ‘gangguan’ mendapat haid) ibadah tsb akan diterima oleh Allah swt ? akankah ibu yakin haji ibu-ibu mabrur jikalau menurut ibu sudah melaksanakan ibadah full ? Bisa jadi yang mendapat haid, yang ihklas menjalaninya, masih banyak ibadah yang bisa dilakukan selama haid, justru itu yang mabrur ? “

Mak yess rasanya mendengar uraian bunda Ningrum ini, maka bismillah saya mantap memutuskan tidak memakai obat penunda haid. Tentu saja dengan selalu berdoa agar segala ibadah saya dimudahkanNya, doa khusus saya tidak haid selama Wukuf saja (walaupun jika mendapat selama Wukuf, insyaAllah juga akan ihklas menjalaninnya, amiin).

Alhamdulillah, justru haid saya datang seminggu setelah hajian, bahkan sempat mikir apa kebobolan positif hamil ;;)

Allahu Akbar, serahkan semua urusanmu kepada Sang Pencipta, ber-ihktiarlah, insyaAllah semua dimudahkanNya. Amin.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.