Kalau membaca catatan ini, sebelum keberangkatan, pasti bisa merasakan betapa hal yang terberat saat berangkat adalah meninggalkan anak-anak. Mesti sudah berusaha pasrah, ihklas bahwa semuanya milik Allah, maka titipkanlah semuanya kepada Sang PemilikNya.
Bismilillah, akhirnya sebelum berangkat kami insyaAllah pasrah dan ihklas meninggalkan anak-anak, walaupun minggu pertama memang tantangan terberat, baik buat anak-anak maupun kedua orang tuanya (terutama bundanya
).
Dua minggu setelah kami pergi, kakak sudah jarang mau terima telp atau membalas SMS. Padahal 3-5 hari pertama ditinggal masih sering miss call atau SMS. Baca kembali catatan tanggal 30 November 2008, sewaktu keberangkatan kami, sungguh sampai mau naik pesawat-pun Shafa masih minta ditelp (jam 2 dini hari).
Ditanya sama makciknya (budenya, yang menunggu anak-anak selama kami pergi), kenapa kakak jarang mau menerima telp/sms bunda. Kakak menjawab “itu trik makcik, biar ga kangen bunda”. Waktu bundanya menanyakan ide dari mana pikiran tsb, kakak menjawab via sms “Ya dari otak dong bunda, masak dari tenggorokan” .. duh kakak kakak …
Setelah melewati semuanya, kami bisa menyimpulkan, memang hanya dengan kepasrahan dan keihklasan insyaAllah semua bisa terlewati. Seminggu setelah disana, kami tidak merasakan kangen yang mendera (bukan tidak kangen loh ya
), tapi insyaAllah sudah melupakan apa-apa yang kami tinggal, lebih mengfokuskan diri untuk ibadah.
Tapi memang, mengatakan hal ini tidak semudah menjalaninya
, tapi insyaAllah dengan menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta, semua jamaah bisa melewatinya, amiin.

terima kasih, spt merasakan moment itu.. Insya ALLAH ikhlas pada hari H-nya. *crying mode*
By: Bunda Khalif&Khalisa on January 25, 2010
at 4:06 pm